Munas 2, APCI Perkuat Profesionalisme dan Kontribusi Nasional
Bekasi, 15 Juni 2025 – Asosiasi Praktisi Coach Indonesia (APCI) dengan bangga mengumumkan telah sukses menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) ke-2 pada tanggal 15 Juni 2025 di Hotel Horison Balairung Matraman Jakarta. Acara penting ini diselenggarakan secara hybrid online dan offline oleh perwakilan anggota dan peserta seminar online seluruh Indonesia.
Munas ke-2 APCI memiliki tiga agenda utama: pembahasan dan pengesahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), penyusunan rekomendasi strategis program kerja untuk periode mendatang, serta pemilihan Ketua Umum baru.
Dalam sidang pleno, peserta Munas secara aklamasi kembali memilih Bapak Adang Adha sebagai Ketua Umum APCI untuk periode kedua. Kepercayaan yang kembali diberikan kepada Bapak Adang Adha merupakan refleksi dari apresiasi anggota terhadap kepemimpinan beliau dalam membawa APCI mencapai berbagai prestasi penting di periode sebelumnya, termasuk keberhasilan dalam mendorong terciptanya Standar Kompetensi Kerja Khusus (SKKK) Profesi Coaching dan pembentukan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Coaching.
Munas ke-2 juga dimeriahkan dengan Seminar Nasional bertajuk "Peran Coaching dalam Transformasi SDM Indonesia", yang menghadirkan pembicara-pembicara terkemuka. Sektor swasta diwakili oleh Bapak Wing Antariksa, MBA, Direktur HC Blue Bird, yang berbagi pandangan tentang implementasi coaching di korporasi. Sementara itu, dari sektor pemerintah, hadir Dr. Tri Widodo H. Utomo, SH,, MA dari Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI), yang memaparkan pentingnya coaching dalam pengembangan ASN dan birokrasi. “Kami di LAN melakukan transformasi model pembelajaran dari training ke learning, sehingga kami memperkuat peran coach dalam proses pembelajaran ASN, Sehingga para ASN bertumbuh bukan hanya banyak tau tapi banyak action”. Ujar Dr. Tri Widodo di sela sela seminar. Pak Wing Antariksa menambahkan bahwa “pemimpin di organisasi perlu jadi pemimpin yang coachable, sulit terjadi transformasi jika pemimpin merasa paling pintar dan gak bisa mendengarkan dan menerima feedback” Pak Wing Juga menambahkan dalam paparannya “hindari pemimpin yang punya dark triad personality karena cost yang ditimbulkan dari kepribadian ini signifikan”
Seminar ini memberikan wawasan berharga tentang relevansi coaching di berbagai lini pembangunan.
Rekomendasi Program Kerja yang Disahkan:
Munas ke-2 mengesahkan rekomendasi program kerja yang komprehensif, berfokus pada lima pilar utama: I. Pengembangan Profesionalisme dan Kualitas Coach: Program ini berkomitmen untuk meningkatkan standar dan kualitas coach di Indonesia. Prioritas termasuk pengembangan standar kompetensi coach yang diakui BNSP di berbagai level dan pembuatan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk Coaching. Selain itu, akan digalakkan program Pengembangan Berkelanjutan (CPD) melalui webinar, workshop, seminar rutin, mentoring, dan supervisi, serta mendorong penelitian dan publikasi ilmiah terkait coaching.
II. Penguatan Jaringan dan Kolaborasi: APCI akan fokus pada perluasan jejaring dan kemitraan strategis. Ini akan dicapai melalui kampanye peningkatan keanggotaan dengan pembentukan tiga Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dengan memberikan mandat kepada Kartiko Adi untuk membentuk DPD Banten, Zulfikar M Rachman untuk DPD Jakarta dan juga dr. Agung Kris untuk DPD Yogyakarta.
APCI juga akan Membangun Kemitraan strategis dengan instansi pemerintah, perusahaan swasta, lembaga pendidikan, dan asosiasi profesi lain juga akan ditingkatkan, termasuk penyelenggaraan konferensi coaching nasional/internasional. Pengembangan platform komunikasi digital juga menjadi fokus.
Dalam munas ini juga APCI menandatangi MOU dengan LKPE IPB, LSP Soft Skill Indonesia Kompeten dan juga platform digital coachingyuk.com sebagai bentuk kongkrit dari langkah strategis APCI.
III. Kontribusi Sosial dan Dampak Positif: APCI berkomitmen untuk menunjukkan peran coaching dalam pembangunan bangsa. Program Coaching for Community akan digalakkan untuk UMKM, organisasi nirlaba, dan individu kurang mampu. Advokasi dan edukasi publik akan terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat dan etika coaching. Penguatan kode etik dan mekanisme pengaduan juga menjadi prioritas.
IV. Penguatan Organisasi dan Tata Kelola: Program ini menekankan peningkatan efisiensi dan transparansi internal APCI, meliputi penyempurnaan AD/ART, penerapan manajemen keuangan yang transparan, dan pengembangan kapasitas pengurus serta relawan.
V. Pembentukan Lembaga Sertifikasi (LSP) Coaching: Sebagai langkah strategis, Munas merekomendasikan Pemberian rekomendasi kepada PT. LSP Coaching Indonesia dan PT. Coaching Indonesia sebagai syarat pembentukan LSP dari BNSP.
Dengan terpilihnya kembali Adang Adha dan disahkannya program kerja strategis ini, APCI siap melangkah maju untuk terus meningkatkan profesionalisme para praktisi coach di Indonesia, memperluas dampak positif coaching di berbagai sektor, serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. “Kami bermimpi Indonesia punya SKKNI tentang Coaching, dan saya tau ini bukan pekerjaan yang mudah, perlu banyak kolaborasi dari stakeholder coaching perlu sumber daya tenaga, waktu dan uang yang tidak sedikit. Karenanya APCI ingin inklusif merangkul semua pihak yang bekepentingan” Ujar Adang Adha.
Tentang Asosiasi Praktisi Coach Indonesia (APCI): APCI adalah organisasi profesi yang mewadahi para praktisi coach di Indonesia, berkomitmen untuk mengembangkan standar kompetensi, etika, dan profesionalisme dalam praktik coaching di seluruh Nusantara.
Informasi APCI: www.asosiasicoach.org
Ferdy: 08193231338
Adang Adha
Penulis dan praktisi coaching berpengalaman yang berkontribusi dalam pengembangan komunitas coaching di Indonesia.
Artikel Terbaru
Newsletter APCI
Dapatkan artikel terbaru dan update eksklusif langsung di email Anda.